PENULIS
TANGGAL
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menganalisis pandangan teologis Paulus tentang bahasa roh berdasarkan 1 Korintus 14:5 serta implikasinya bagi ibadah gereja kontemporer. Fenomena glossolalia atau γλώσσαις (glossais) menjadi kontroversial karena perbedaan pemahaman antara gereja Pentakosta-Karismatik (ucapan ekstatis tidak dimengerti sebagai tanda kepenuhan Roh Kudus) dengan gereja Reformed (cessationis yang menganggap karunia ini telah berakhir). Metode yang digunakan adalah kualitatif kepustakaan dengan pendekatan eksegetis terhadap teks Yunani 1 Korintus 14:5, meliputi analisis tekstual, gramatikal, dan kontekstual. Sumber primer adalah teks Alkitab 1 Korintus 12-14, sedangkan sumber sekunder meliputi komentar Alkitab, buku teologi, jurnal ilmiah, dan tulisan bapa-bapa gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa roh yang dikoreksi Paulus di jemaat Korintus bukanlah karunia Roh Kudus yang sah, melainkan praktik penyimpangan dari latar belakang penyembahan berhala (kultus dewa Dionysus dan dewi Cybele) berupa ucapan ekstatis tidak bermakna yang menimbulkan kekacauan. Paulus membedakan bahasa roh sejati (Kisah Para Rasul 2: dapat dimengerti, berfungsi menyebarkan Injil) dengan bahasa roh palsu di Korintus. Dalam 1 Korintus 14:5, Paulus menghendaki jemaat berbahasa roh tetapi memprioritaskan nubuat karena bahasanya jelas dan membangun jemaat (οἰκοδομή). Kesimpulannya, hakikat bahasa roh menurut Paulus adalah karunia yang dapat dimengerti dan bertujuan membangun komunitas. Bagi gereja kontemporer, prinsip penerapannya meliputi: membedakan bahasa roh sejati dari yang palsu, tidak mewajibkannya sebagai syarat kepenuhan Roh Kudus, serta mengutamakan ketertiban dan penafsiran dalam ibadah. Kata Kunci: Bahasa Roh, Glossolalia, γλώσσαις, 1 Korintus 14:5, Paulu
FILE YANG DAPAT DIUNDUH