PENULIS
TANGGAL
ABSTRAK
Diabetes mellitus is a chronic disease that requires management based on a multidisciplinary approach for optimal treatment outcomes. According to the latest data from the Ministry of Health, Indonesia has around 19.5 million people with diabetes mellitus (DM), making it the country with the fifth highest number of sufferers in the world. The prevalence of diabetes in Indonesia in 2023 reached 11.7%. Interprofessional collaboration among various health workers, such as doctors, nurses, pharmacists, nutritionists, and other related professions, plays an important role in ensuring integrated patient care that focuses on individual needs. This approach not only supports blood sugar control but also contributes to the prevention of long-term complications that can worsen the patient's condition. However, the implementation of this collaboration still faces several challenges, including the lack of effective communication between professions, stereotypes that weaken mutual trust, and the lack of health workers who have undergone special training on cross-professional collaboration. To overcome these obstacles, strategic steps are needed, such as improving interprofessional training, building an efficient communication system, and creating a work environment that supports ongoing cross-professional collaboration. Thus, interprofessional collaboration not only improves the quality of diabetes mellitus management but also helps create a more effective, efficient, and comprehensive patient care-focused health service system. ABSTRAK Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan berbasis pendekatan multidisiplin untuk hasil perawatan yang optimal. Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan, Indonesia memiliki sekitar 19,5 juta penderita diabetes melitus (DM), menjadikannya sebagai negara dengan jumlah penderita tertinggi kelima di dunia. Prevalensi diabetes di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 11,7%. Kolaborasi interprofesional di antara berbagai tenaga kesehatan, seperti dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, dan profesi terkait lainnya, memainkan peran penting dalam memastikan perawatan pasien yang terintegrasi dan berfokus pada kebutuhan individu. Pendekatan ini tidak hanya mendukung pengendalian kadar gula darah, tetapi juga berkontribusi pada pencegahan komplikasi jangka panjang yang dapat memperburuk kondisi pasien. Namun, penerapan kolaborasi ini masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kurangnya komunikasi efektif antar profesi, stereotip yang melemahkan rasa saling percaya, serta minimnya tenaga kesehatan yang mengikuti pelatihan khusus tentang kolaborasi lintas profesi. Untuk mengatasi hambatan ini, diperlukan langkah-langkah strategis, seperti meningkatkan pelatihan interprofesional, membangun sistem komunikasi yang efisien, serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kerja sama lintas profesi secara berkelanjutan. Dengan demikian, kolaborasi interprofesional tidak hanya meningkatkan kualitas pengelolaan diabetes melitus, tetapi juga membantu menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang lebih efektif, efisien, dan terfokus pada perawatan pasien secara menyeluruh. Pendahuluan Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) adalah salah satu penyakit kronis yang paling umum di dunia, dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama di negara berkembang. Peningkatan kasus DMT2 dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti urbanisasi yang cepat yang menyebabkan perubahan gaya hidup masyarakat, termasuk berkurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang tidak sehat. Selain itu, penuaan populasi, di mana jumlah orang tua meningkat secara signifikan, turut meningkatkan risiko diabetes. Sistem kesehatan yang kurang memadai juga menjadi hambatan dalam upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengelolaan diabetes. Manajemen diabetes sendiri bersifat kompleks dan membutuhkan strategi jangka panjang yang melibatkan berbagai tenaga
FILE YANG DAPAT DIUNDUH